
ilustrasi | lintangluku.com
Tora akhinya membuka matanya. Dia tersadar dengan rasa nyeri luar biasanya di bagian kepalanya. Seluruh badannya juga terasa nyeri. Otot-ototnya serasa baru saja di tarik ke segala arah. Dengan memegang kepalanya Tora mencoba untuk duduk. Namun tangannya terasa hangat. Tora melihat tangannya. Darah segar membasahi tangannya. Dengan sisa tenaga Tora memegang lengan sofa untuk membantunya berdiri.
Tora melihat sekeliling ruangan. Ia melihat ruang tamu rumahnya telah hancur berantakan. Pecahan kaca berserakan dimana-mana. Semua hancur. Kini rumahnya tak lebih baik dari sebuah kapal pecah yang dihantam badai. Tora berjalan sempoyongan, kemudian ia duduk di salah satu sofa yang sepertinya baru saja dicabik-cabik. Ia mencoba menenangkan dirinya sembari mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi.
Beberapa bayangan berkelebat di kepalanya. Dia ingat, bahwa beberapa menit yang lalu ia dan pacarnya bertengkar hebat. Lalu tiba-tiba saja dadanya terasa terbakar. Dan setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi. Sekarang ia juga tidak tahu pacarnya pergi kemana.
Tora melihat lelehan darah di tangannya. Ia berusaha mengingat lagi. Tapi tetap saja dia tak bisa mengingat apapun. Kemudian Tora melihat jejak darah menuju lantai dua. Dengan hati-hati dia mengikuti jejak darah tersebut. Dan jejak darah itu menuju kamarnya. Tora melihat pintu kamarnya sedikit terbuka. Ia pun berlari ke arah kamar dan membuka pintu.
Betapa terkejutnya Tora, seekor harimau sedang memakan tubuh Shinta, pacarnya diatas kasur yang berlumuran darah. Harimau itu menatapnya tajam. Terlihat lengan Shinta, masih di mulutnya. Nampaknya kehadiran Tora mengganggu makan malamnya. Harimau itu mengaum. Torapun segera berbalik arah dan berlari secepat yang ia bisa.
Tapi ia berlari dengan binatang yang salah. Dalam beberapa lompatan harimau tersebut sudah berada tepat di depan Tora. Torapun mundur, harimau itu terus maju dengan tatapannya yang tajam. AUUUURRRRGGGGHH!! Harimau itu melompat. Torapun melompat ke samping dan berhasil menghindar. Sang harimau belum menyerah, dia berbalik. Tora meraih sebuah pecahan kaca yang berada di dekatnya. Sang harimau sudah kembali bersiap. AUUUUURRRRGGGGHHH!!! Harimau belari kencang. Kali ini tepat menerkan tubuh Tora. Dengan sisa tenang Tora berbalik menindih tubuh si harimau. Dengan membabi buta dia menusukkan pecahan kaca ke tubuh sang harimau.
Tubuh si harimau tak bergerak lagi. Torapun bangkit, dan berjalan dengan tubuh sempoyongan. Lalu tak sadarkan diri.
***
Sinar matahari menelusup dari balik jendela yang terbuka. Torapun terbangun. Perlahan dia membuka mata. Kapalanya sakit luar biasa. Otot dan tulang-tulangnya nyeri. Tenaganya habis, nyaris tanpa sisa. Ia melihat ke sisi kiri, ada wajah Shinta yang tertidur pulas. Tapi entah kenapa wajahnya pucat. Ia menoleh ke sisi kanan, dia melihat dirinya sendiri dengan muka lelah dan hampir sama pucatnya dengan wajah Shinta.
Tiba-tiba dia merasakan ada sesuatu dalam genggaman tangannya. Pisau. Tiba-tiba dia ingat kejadian semalam. Pertengkarannya dengan Shinta. Harimau. Ia membuka selimut di tubuh Shinta. Ia melihat tubuh Shinta berlumuran darah dengan beberapa bekas luka tusukan. Tora menatap pisau di tangannya. Menatap tubuh Shinta. Ia masih tidak percaya bahwa ia telah membunuh pacarnya sendiri. Tora menatap dirinya di dalam cermin. Harimau!



