:::: MENU ::::

Harimau!

ilustrasi | lintangluku.com

Tora akhinya membuka matanya. Dia tersadar dengan rasa nyeri luar biasanya di bagian kepalanya. Seluruh badannya juga terasa nyeri. Otot-ototnya serasa baru saja di tarik ke segala arah. Dengan memegang kepalanya Tora mencoba untuk duduk. Namun tangannya terasa hangat. Tora melihat tangannya. Darah segar membasahi tangannya. Dengan sisa tenaga Tora memegang lengan sofa untuk membantunya berdiri.

Tora melihat sekeliling ruangan. Ia melihat ruang tamu rumahnya telah hancur berantakan. Pecahan kaca berserakan dimana-mana. Semua hancur. Kini rumahnya tak lebih baik dari sebuah kapal pecah yang dihantam badai. Tora berjalan sempoyongan, kemudian ia duduk di salah satu sofa yang sepertinya baru saja dicabik-cabik. Ia mencoba menenangkan dirinya sembari mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi.

Beberapa bayangan berkelebat di kepalanya. Dia ingat, bahwa beberapa menit yang lalu ia dan pacarnya bertengkar hebat. Lalu tiba-tiba saja dadanya terasa terbakar. Dan setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi. Sekarang ia juga tidak tahu pacarnya pergi kemana.

Tora melihat lelehan darah di tangannya. Ia berusaha mengingat lagi. Tapi tetap saja dia tak bisa mengingat apapun. Kemudian Tora melihat jejak darah menuju lantai dua. Dengan hati-hati dia mengikuti jejak darah tersebut. Dan jejak darah itu menuju kamarnya. Tora melihat pintu kamarnya sedikit terbuka. Ia pun berlari ke arah kamar dan membuka pintu.

Betapa terkejutnya Tora, seekor harimau sedang memakan tubuh Shinta, pacarnya diatas kasur yang berlumuran darah. Harimau itu menatapnya tajam. Terlihat lengan Shinta, masih di mulutnya. Nampaknya kehadiran Tora mengganggu makan malamnya. Harimau itu mengaum. Torapun segera berbalik arah dan berlari secepat yang ia bisa.

Tapi ia berlari dengan binatang yang salah. Dalam beberapa lompatan harimau tersebut sudah berada tepat di depan Tora. Torapun mundur, harimau itu terus maju dengan tatapannya yang tajam. AUUUURRRRGGGGHH!! Harimau itu melompat. Torapun melompat ke samping dan berhasil menghindar. Sang harimau belum menyerah, dia berbalik. Tora meraih sebuah pecahan kaca yang berada di dekatnya. Sang harimau sudah kembali bersiap. AUUUUURRRRGGGGHHH!!! Harimau belari kencang. Kali ini tepat menerkan tubuh Tora. Dengan sisa tenang Tora berbalik menindih tubuh si harimau. Dengan membabi buta dia menusukkan pecahan kaca ke tubuh sang harimau.

Tubuh si harimau tak bergerak lagi. Torapun bangkit, dan berjalan dengan tubuh sempoyongan. Lalu tak sadarkan diri.

***

Sinar matahari menelusup dari balik jendela yang terbuka. Torapun terbangun. Perlahan dia membuka mata. Kapalanya sakit luar biasa. Otot dan tulang-tulangnya nyeri. Tenaganya habis, nyaris tanpa sisa. Ia melihat ke sisi kiri, ada wajah Shinta yang tertidur pulas. Tapi entah kenapa wajahnya pucat. Ia menoleh ke sisi kanan, dia melihat dirinya sendiri dengan muka lelah dan hampir sama pucatnya dengan wajah Shinta.

Tiba-tiba dia merasakan ada sesuatu dalam genggaman tangannya. Pisau. Tiba-tiba dia ingat kejadian semalam. Pertengkarannya dengan Shinta. Harimau. Ia membuka selimut di tubuh Shinta. Ia melihat tubuh Shinta berlumuran darah dengan beberapa bekas luka tusukan. Tora menatap pisau di tangannya. Menatap tubuh Shinta. Ia masih tidak percaya bahwa ia telah membunuh pacarnya sendiri. Tora menatap dirinya di dalam cermin. Harimau!


Kisah Penyair dan Rembulan

Ilustrasi | taraksa.majalahepik.com

Dari pengansinganku, aku melihat rembulan pecah malam ini. Petir menyambar sampai ke luar bumi. Dari pengasinganku aku melihat manusia berhamburan. Bukan, bukan untuk melarikan diri. Mereka berhamburan mengumpulkan serpihan rembulan yang pecah tersambar petir tadi. Pemandangan yang luar biasa. Ini seperti melihat kepingan cahaya jatuh ke bumi.

Aku malam terpukau sementara rembulan meledak. Aku tak tahu aku ini lelaki macam apa. Aku ingin bebas dari pengasinganku ini. Aku ingin keluar menyelematkan kekasihku yang aku tinggalkan di rembulan. TUHAAAAAN!! Keluarkan aku!! Aku merasakan langit bergetar. Aku meringkuk dalam ruang pengasingan yang gelap dan dingin. Bahkan wajah kekasihku yang aku lukis menggigil.

***

Tepat 3 bulan yang lalu di rumah kekasihku, pada suatu malam yang kita habiskan berdua. Aku menatap rembulan. Mencoba menemukan makna cahayanya.

“Tuan, apa yang sedang kau tatap?” Katamu.

Aku tersentak. “Ah tidak ada apa-apa.” Kataku.

“Tuan, bagaimana secangkir malam buatanku?”

“Hmm.. malammu malam ini cukup pekat. Rindu yang lebih banyak dari biasanya bisa aku hisap dari aromanya.”

“Tuan, maukah kau menuliskan beberapa bait puisi untukku seperti biasanya?”

Aku mengeluarkan buku kecil dan sebuah pena dari kantong kemejaku. Aku selalu membawa buku ini, sebab sajak begitu liar. Dan kau harus siap menangkapnya dengan pena dan buku setiap saat. Tak boleh lengah. Aku kemudian berpikir. Pikiranku mencari sajak-sajak liar dalam satu triliun neuron dalam tengkorak kepalaku. Yap dapat.

“Selesai.” ujarku

“Bacakan untukku wahai Tuanku.” Pinta kekasihku dengan senyumnya paling manis.

“Dengarkan. Hari ini kita duduk di teras rumah kita melihat rembulan. lain kali kita duduk di rembulan melihat rumah kita. Terima kasih atas secangkir rindu. Malam ini aku menyesapnya sambil tersendu. Dengan apa kubalas rindumu. Maukah kau menerima cintaku? Sebagai tanda kita saling setuju atas rindu.”

“Terima kasih Tuan. Seperti biasa, aku kagum dengan puisimu. Kata-katamu adalah lautan, dan hanya penyair sepertimu yang bisa menyelematkan hatiku sebelum tenggelam.” Ujar kekasihku.

Ketika aku akan pulang, kekasihku berkata, “Tuan, aku terkesan dengan kata rembulan dalam puisimu tadi. Apakah bisa kita melihat rumah kita dari rembulan?”

Dan bisa ditebak, aku kemudian menjadi seperti lelaki lain yang ingin tampak seperti ‘laki-laki’ bagi perempuannya. Aku menjanjikan hal paling sulit dilakukan seorang penyair seperti aku.

“Tak ada yang tak bisa selagi kita masih cinta,” Jawabku. Aku memeluk tubuhnya yang hangat, kubelai rambut panjangnya agar ia tenang melepasku pulang. Lalu pulang membawa segudang gundah.

***

Atas petunjuk seorang teman akhirnya aku menemukan jalan ke rembulan. Sebuah jalan jalan yang harus kubayar dengan beberapa luka di tubuhku. Meskipun sudah diberi tahu, aku tak menyangka bahwa dua malaikat penjaga gerbang rembulan segarang ini. Dengan pedang yang juga kubeli dari temanku, aku berhasil membunuh kedua malaikat itu.

Sebelum aku berhasil memotong sayap kedua malaikat tersebut, aku sempat dilukai oleh mereka. Tapi aku dengan sigap memotong sayap mereka berdua. Dengan sekali jurus, aku sudah berhasil menghunuskan pedang tepat di jantung mereka. Aku juga baru tahu, ketika mati tubuh para malaikat hancur menjadi jutaan keping cahaya. Hampir saja aku lupa tujuanku dan kekasihku. Aku menggenggam tangannya berlari ke rembulan.

Kami duduk di rembulan berdua. Seperti dalam puisiku, aku dan kekasihku menatap rumah kami dari rembulan. Aku dan kekasihku tak lagi melihat keindahan, tapi sekarang kamilah keindahan.

Setelah itu aku tak ingat apa-apa lagi. Aku terbangun dalam sebuah ruang gelap berjeruji. Di depan ruanganku ada sebuah ruangan berjeruji lain. Seorang pria disana. Dari dia aku tahu kalau ini adalah ruang pengasingan bagi orang-orang seperti aku dan dia. Pria itu sendiri dikurung disini karena mencoba menjual senja pada seorang pelukis gelap.

Kemaren pagi dia di hukum mati. Sekarang aku, dalam ruang pengasinganku melihat rembulan hancur berkeping-keping. Aku tak tahu bagaimana kabar kekasihku.

“Hai penyair!”

Aku terkejut mendengar hardikan itu. Seorang malaikat penjaga berdiri di luar jeruji.

“Kekasihmu, telah membayar semua kesalahanmu. Ia mengorbankan jiwanya menjadi rembulan yang baru. Tapi Tuhan tetap tak mengampuni kesalahanmu. Kau akan tetap dihukum dalam pengasingan ini, selama hidupmu. Sekarang, lihatlah keluar.”

Akupun melihat keluar dari balik jeruji. Tak lagi kepingan rembulan yang pecah berjatuhan. Sekarang di langit ada sebuah cahaya berpendar. Semakin lama semakin besar. Itukah jiwa kekasihku? Tanyaku dalam hati. Tak lama cahaya tersebut menjadi rembulan. Rembulan yang baru. Dari jiwa kekasihku.

***

“Begitulah kisahku, Tuan Pelukis. Bagaimana dengan Tuan, kenapa bisa sampai di tempat ini?”

“Aku baru tahu kalau rembulan itu adalah kekasihmu, Tuan Penyair. Tadinya aku berniat mencurinya, karena lukisanku tak pernah bagus. Aku ingin mencuri rembulan itu dan meletakkannya pada sebuah kanvas. Tapi…”

“Kau akhirnya tertangkap bukan?”

“Ya, begitulah. Ternyata jurusku tak sehebatnya jurusmu. Tuan penyair, bagaimana kalau kita kabur dari sini. Aku akan membantumu membawa rembulan, kekasihmu.Bagaimana?”

Aku melihat rembulan, tak kudapatkan persetujuan. Tak kujawab pertanyaan Tuan Pelukis, aku tinggal tidur. Dan sekarang rembulan hilang.


Gonta-Ganti Sim Card

Halo teman-teman, maaf ya kalau belakangan jadi jarang blogwalking dan posting alakadarnya di blog ini. Belakangan dunia nyata lebih banyak menyita perhatian (alesan klasik kalau jarang posting :D).

sim card | photonicdetectors.com

Kali ini gue mau cerita tentang satu benda kecil yang vital. Kenapa gue bilang vital? Bukan berarti ini alat vital sih, tapi karena peranannya yang cukup penting. Yak Sim Card. Benda satu kecil ini sangat vital dalam dunia komunikasi sekarang ini. Percuma kan punya handphone keren tapi nggak sim cardnya. Jadi kayak handphone mainan yang kalau dipencet keluar lagu deh :D

Ngomong-ngomong soal sim card, gue udah sering banget gonta-ganti sim card. Entah udah berapa sim card yang gue pake. Dan udah berbagai macam provider juga gue cobain. Dulu pertama kali gue pake yang merah tuh. Gonta-ganti beberapa kali. Terus pindah ke kuning. Udah nggak cocok, kitapun putus. Gue cari yang baru, pindah ke sulastri. Ngebut banget. Tapi sinyalnya kalau gue pulang kampung ilang. Sekarang pacar gue gemuk, ya dilihat dari namanya sih.

Alesan gonta-ganti sim card ini juga bermacam-macam. Kalau gue sih biasanya nyesuain sama sinyal, kecepatan internet dan harga paket yang ditawarkan. Makanya sering pindah-pindah. Ya ibarat nyari jodoh, nyari yang cocok yang paling susah. Apalagi yang cocok di kantong. Apalagi orang Indonesia, maunya murah tapi layanan maksimal.

Buat sebagian orang, mungkin gonta-ganti sim card itu simpel. Tapi buat gue nggak, ribet. Ribetnya adalah ketika lu harus ngasih tahu ke semua orang di kontak lu kalau lu ganti nomer. Kalau temen lu dikit nggak masalah. Kalau banyak itu akan jadi masalah banget. Makanya gue sebenarnya agak malas ganti sim card. Tapi tetep aja malah sering jadinya -__-”

Dan sekarang gue udah bertekad nggak bakalan ganti sim card, selama tarifnya nggak naik :)) *digetok*

 


Kumpulan #puisimalam 22 April 2013

Ini adalah beberapa #puisimalam yang gue tulis di twitter. #puisimalam sendiri diadakan oleh akun @nulisbuku pada malam-malam tertentu jam 11 malam. #puisimalam kali ini temanya adalah “waktu”.

1.   Mata kita, tempat menemukan diri masing-masing. pastikan di matamu tak kulihat orang lain.

2.   Akan kutanam bulan di matamu. agar disana malam tak terlalu gelap, untuk melihat rindu yang pekat.

3.   di matamu ada rembulan. setiap malam aku melihat rumah dari kejauhan.

4.   mataku adalah rumah. di dalamnya kamu menyiram bunga-bunga indah.

5.   mari bicara empat mata. tentang cita, cinta dan kita.

6.   ada senja dan lautan di matamu. dan aku adalah camar yang bercoleteh tentang malam yang menjelang.

7.   aku senja abadi di matamu. dengan segala riaknya, ombaknya dan riuhnya. simpan aku di mata kacamu.

8.   jangan biarkan mata kacamu pecah. atau segala rindu akan tumpah.

9.   aku tenggelam di matamu. lautan bahagia tanpa tepian ragu. ombaknya selalu membelai rindu.

10. matamu pecah. rindu tumpah ruah. cinta meraung riuh rendah.

11. aku cinta, mataku bicara. cinta buta, rindu bicara. mari bicara cinta buta, empat mata.

12. cinta adalah sungai rindu yang direntang Tuhan. Dan di matamu ia bermuara.

13. jika rinduku lelah mengayuh, maka di matamu ia berlabuh. jika cintaku mengaduh, di matamu ia jatuh.


Kumpulan Puisi #2

Berikut ini adalah kumpulan puisi yang gue tulis di twitter pada tanggal 20 April 2013 plus beberapa kumpulan #puisimalam dengan tema “Janji”

1.  Ada banyak cerita di malam hari tentang betapa mudahnya rindu datang, dan betapa susahnya sebuah pelukan pulang.

2.  Rindu adalah iblis yang menggoda. aku adalah adam yang terlempar pasrah ke dunia bernama kamu.

3.  Wanita adalah kuis yang selalu ingin dimenangkan. dan pria adalah peserta yang seringkali gagal karena menebak-nebak.

4.  Hari ini kita duduk di teras rumah kita melihat bulan. lain kali kita duduk di bulan melihat rumah kita.

5.  Besok pagi kamu tolong bangunkan aku. sebagai gantinya aku akan menjadi imam shubuhmu. setelahnya kamu bisa aminkan doaku.

6.  Aku sedang mencuci bekas luka karena jarak. Setelah kering, tolong setrika, lipat dan simpan dalam lemari.

7.  Mari kita belanja. Aku ingin membelikanmu matahari untuk sarapan kita esok pagi. Agar rindu kita lebih bernergi.

8.  Cinta memang tak bikin kenyang. Tapi aku punya rindu yang bisa membuat lupa terhadap lapar. Sampai aku bawa uang pulang.

9.  Jika tak ada cahaya matahari, mungkin malam ini bulan cuma tidur di kaki langit. menyembunyikan hati yang sakit.

10. Aku naik kereta. mengejar senja utama. tapi senja tak menunggu. di kaki langit aku memanggul rindu.

11. Rumah kita serupa surga. bukan karena semua ada. tapi karena cinta selalu tersedia.

12. Aku bekerja berpeluh rindu. di rumah, kau menjarang do’a-do’a di atas tungku.

13. #puisimalam pada cinta yang pekat, janji diikat. disimpul dengan kuat. do’a dan harapan, padanya kita sepakat.

14. #puisimalam banyak pria mengasah janji. kutanya, untuk apa? katanya ini cara mati paling trendi.

15. #puisimalam banyak pria berdasi janji. banyak wanita bergaun dari janji yang tak ditepati.

16. #puisimalam aku lapar, rindu menjadi makin tak sabar. aku makan saja janjimu, yang mirip telur dadar.


Gue Dan Bus

gambar comot dari situs UNAND

Kali ini gue mau cerita tentang gue dan bus. Ya, bus. Bus itu udah menjadi bagian dari keseharian gue. Hampir tiap hari ke kampus naik bus. Terus kalau weekend pulang kampung naik bus.

Saking seringnya naik bus gue bahkan hapal jadwal bus, supirnya, sampe lagu-lagu yang di puter di bus tersebut. Kalau bus kampus UNAND misalnya, bus no. 02, supirnya om-om yang tampilannya nyentrik banget. Rambutnya di cat pirang ala bule. Cocok sih sama kulitnya yang juga putih. Dan beliau selalu memutar lagu-lagu barat jaman dahulu kala. Salah satu yang sering gue denger itu lagu-lagunya ABBA. Atau lagu-lagu country tahun 70-an. Di kaca bus bagian dalam di depan ada tulisan “Summa Cum Laude”.

Bus no. 02 ini salah satu favorite gue. Bukan karena lagunya. Tapi karena cara sang supir ngebawainnya yang tenang dan bikin nyaman. Nggak pernah ngebut. Santai tapi nggak lambat. Sekarang bus no. 02 disupiri oleh Bang Agus. Nah Bang Agus ini dulu bawa bus kecil no. 11. Bang Agus ini pandai ngerawa bus yang dia bawa. Bus no. 11 yang dia bawa dulu berhasil dipermak jadi bagus banget. Walaupun itu bus lama tapi sama beliau bus tersebut jadi bagus banget dan nyaman. Nggak heran dia sekarang bawa bus no. 02 yang bagus jugak. Bus no. 11 Bang Agus ini sering banget dipake ama gue dan teman-teman sekelas buat pergi jalan-jalan. Selain karena Bang Agusnya fine banget sama mahasiswa, dia juga mau nolongin ngurus ijin peminjaman bus.

Soal penumpang, di bus kampus ini perangai penumpangnya macam-macam. Mulai dari yang biasa-biasa aja kayak gue, ampe yang berisik banget kayak lagi arisan. Bahkan yang pacaran juga ada. Ya mungkin karena cinta membuat mereka merasa bus serasa milik berdua dan kita adalah penumpang. Tapi bener sih kita penumpang. Yang paling ngeselin itu kalau udah ada segerombolan cewek-cewek berisik naik. Pilihannya cuma dua, menikmati kebisingan mereka sampe halte atau turun dan naik bus berikutnya. Ya, dunia bus emang keras kawan.

Itu soal bus kampus. Beda lagi saat gue naik Bus jurusan Padang – Pariaman. Rumah gue berada di Kab. Padang Pariaman, kuliah dan ngekost di Padang. Biasanya sekali seminggu gue pulang kampung, karena subsidi gue dikasih perminggu. Kalau ada kegiatan weekend, baru gue nggak pulang.

Jadi untuk sampai ke Padang atau pulang ke Pariaman transportasi yang selalu gue pilih adalah bus. Sebenernya ada sih pilihan lain, Kereta Api. Tapi kereta api ini transportasi yang baru dihidupkan lagi setelah lama mati suri. Dan sekarang jadi idola baru. Dan selalu penuh. Makanya gue lebih memilih naik bus.

Selama tiga tahun gue kuliah, dan bolak-balik Padang – Pariaman, gue menjadi hapal tentang seluk beluk bus. Mulai dari jam-jam bus rame. Kecepatan, supir serta kenek busnya. Bahkan penumpangnya. Untuk jadwal itu gue udah hapal banget. Jadi gue selalu berangkat ke Padang itu pada jam 10 – 11. Antara rentang waktu tersebut, gue bisa pastikan busnya nggak terlalu rame dan selalu dapet tempat duduk. Bahkan bus pada jam-jam tersebut gue udah kenal sama keneknya.

Tempat duduk paling pewe buat gue di dalam bus itu ada di deretan kursi paling belakang dekat kenek berdiri. Selain deket pintu yang notabene sejuk karena angin, juga pada posisi ini kalau kursi penuh dan ada ibu-ibu atau orang tua yang gue tawarin duduk, pasti nggak mau. Karena mereka takut jatuh.

Tapi ada satu ritual yang selalu nggak pernah absen gue lakuin kalau pulang ke Pariaman. Tidur di dalam bus. Entah mengapa kalau pulang ke Pariaman gue di dalam bus bawaannya selalu ngantuk. Dan tidur jadi pelampiasannya. Biasanya kalau udah ngantuk gue bakal bayar ongkosnya duluan, terus minta dibangunin kalau udah mau sampe deket rumah gue. Untung sih, keneknya udah pada kenal. Dulu waktu awal-awal pernah gue kelewat dari rumah gue karena ketiduran. Untung sih belum jauh.


Pages:1234567...35