<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>penuliscemen[dot]com</title>
	<atom:link href="http://penuliscemen.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://penuliscemen.com</link>
	<description>Coretan Sederhana Penulis Cemen</description>
	<lastBuildDate>Sat, 19 May 2012 17:06:25 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.2</generator>
		<item>
		<title>KB, Keluarga Berencana (Direncanakan)</title>
		<link>http://penuliscemen.com/kb-keluarga-berencana-direncanakan/</link>
		<comments>http://penuliscemen.com/kb-keluarga-berencana-direncanakan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 19 May 2012 17:06:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penuliscemen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Si Cemen]]></category>
		<category><![CDATA[BKKBN]]></category>
		<category><![CDATA[KB]]></category>
		<category><![CDATA[Keluarga Berencana]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penuliscemen.com/?p=942</guid>
		<description><![CDATA[Tweet  &#160;   &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; KB alias Kena Batunya.. heuheu maap becanda. Udah pada tahu KB kan? Alias Keluarga bencana Berencana. Itu adalah program pemerintah untuk pembentukan keluarga ideal, dimana dua anak cukup. Kalau menurut gue sebagai lelaki harusnya dua istri cukup (ditoyor ibu-ibu sekelurahan). Gue sebenernya agak kurang srek sih sama program]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="tweetbutton942" class="tw_button" style=""><a href="http://twitter.com/share?url=http%3A%2F%2Fpenuliscemen.com%2Fkb-keluarga-berencana-direncanakan%2F&amp;via=penuliscemen&amp;text=KB%2C%20Keluarga%20Berencana%20%28Direncanakan%29&amp;related=&amp;lang=en&amp;count=horizontal&amp;counturl=http%3A%2F%2Fpenuliscemen.com%2Fkb-keluarga-berencana-direncanakan%2F" class="twitter-share-button"  style="width:55px;height:22px;background:transparent url('http://penuliscemen.com/wp-content/plugins/wp-tweet-button/tweetn.png') no-repeat  0 0;text-align:left;text-indent:-9999px;display:block;">Tweet</a></div><p><a href="http://penuliscemen.com/wp-content/uploads/2012/05/KB.jpg"> </a><a href="http://penuliscemen.com/wp-content/uploads/2012/05/KB2.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-944" title="KB2" src="http://penuliscemen.com/wp-content/uploads/2012/05/KB2.jpg" alt="" width="299" height="288" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://penuliscemen.com/wp-content/uploads/2012/05/KB2.jpg"> </a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>KB alias Kena Batunya.. heuheu maap becanda. Udah pada tahu KB kan? Alias Keluarga <del>bencana</del> Berencana. Itu adalah program pemerintah untuk pembentukan keluarga ideal, dimana dua anak cukup. Kalau menurut gue sebagai lelaki harusnya dua istri cukup (ditoyor ibu-ibu sekelurahan).</p>
<p>Gue sebenernya agak kurang srek sih sama program pemerintah yang satu ini. Kenapa orang mau punya anak harus dibates-batesi lagi. Cuma dua pula, kayak sarimi. Gue takut pas anak kedua lahir, muncul Ayu Ting Ting dan nyanyi &#8220;Duaaa&#8230; Duaaa&#8230; anaknya udah duaa&#8221;. Absurd. Kalau beristri dua Ayu ting ting juga muncul dan nyanyi &#8220;Duaaa.. duaaa&#8230; Suami istri duaaa&#8230; Suamiiii&#8230; Suami istri duaaa&#8221;. Segitu dulu dangdutannya, sekian dan terima goyangan, halah.</p>
<p>Terus juga kalau hamil pertama ternyata kembar, gimana? udah dua dong. Di China lebih parah lagi, disana cuma boleh punya satu anak. Dan lebih ngenes lagi gimana kalau ternyata anak yang nggak jadi itu malah lebih baik. Yang lahir jadi satpam, siapa tahu yang nggak lahir itu malah jadi presiden.</p>
<p>Back to topic, keluarga berencana. Sebenarnya ada yang salah dengan persepsi masyarakat tentang KB. Bukan persepsi masyarakat aja sih tapi pemerintah jugak. Simak Keluarga Berencana yang benar menurut gue:</p>
<p>Keluarga Berencana, nah dari namanya sudah jelas kan? <strong>Berencana. </strong>Dari namanya sudah jelas &#8220;<strong>Berencana</strong>&#8221; yang berarti itu semua direncanakan. Dan menurut gue keluarga berencana itu dimulai dari sekarang. Rencanakan dari sekarang. Dan ini <strong>Rencana</strong> gue:</p>
<p>- Umur 23 tahun (setahun lagi) gue udah kerja (kalau bisa lebih cepat).</p>
<p>- Umur 26 tahun gue menikah.</p>
<p>- Umur 27 Tahun gue udah punya anak satu.</p>
<p>- Umur 28 atau 29 tahun udah punya anak kedua. umur 30 tambah satu lagi.</p>
<p>- Pas umur 30 nggak mau punya anak lagi. 30 sampai 45 tahun fokus membesarkan anak. Karena produktivitas maks hanya sampai umur 45 tahun. Umur 45 tahun hanya menikmati hasil.</p>
<p>- Nah masa tua enak kan.</p>
<p>Itu &#8220;Rencana&#8221; gue. Silahkan rencanakan hidup kalian. Jangan menikah pada usia yang terlalu tua, nanti susah membesarkan anak. Fisik udah terlalu lemah untuk bekerja. Kalau sudah tua, umur sudah uzur, mata sudah kabur, kulit mulai kendur, tak lama masuk kubur. Makanya yang penting itu <strong>Rencanakan Hidupmu</strong> itulah <strong>Keluarga Berencana </strong>menurut gue.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penuliscemen.com/kb-keluarga-berencana-direncanakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>si Badut</title>
		<link>http://penuliscemen.com/si-badut/</link>
		<comments>http://penuliscemen.com/si-badut/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 May 2012 18:13:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penuliscemen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen dan Flash Fiction]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[ff]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penuliscemen.com/?p=935</guid>
		<description><![CDATA[Tweet &#8220;aaaaaaaaa!&#8221; Aulia menjerit dengan keras. Jantungnya berdetak tak beraturan. Sesosok makhluk dengan sentuhan warna merah tiba-tiba muncul dihadapannya. Seorang badut bertopengkan clown. Ia tersenyum sangat lebar. Ia menggaruk-garuk kepalanya dan membungkuk beberapa kali, mengisyaratkan bahwa ia minta maaf. Agak aneh rasanya bagi Aulia, melihat sosok dengan wajah tersenyum tapi dengan gerak tubuh minta maaf.]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="tweetbutton935" class="tw_button" style=""><a href="http://twitter.com/share?url=http%3A%2F%2Fpenuliscemen.com%2Fsi-badut%2F&amp;via=penuliscemen&amp;text=si%20Badut&amp;related=&amp;lang=en&amp;count=horizontal&amp;counturl=http%3A%2F%2Fpenuliscemen.com%2Fsi-badut%2F" class="twitter-share-button"  style="width:55px;height:22px;background:transparent url('http://penuliscemen.com/wp-content/plugins/wp-tweet-button/tweetn.png') no-repeat  0 0;text-align:left;text-indent:-9999px;display:block;">Tweet</a></div><p style="text-align: left;"><a href="http://penuliscemen.com/wp-content/uploads/2012/05/clown.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-938" title="clown" src="http://penuliscemen.com/wp-content/uploads/2012/05/clown-300x216.jpg" alt="" width="300" height="216" /></a></p>
<p style="text-align: left;">&#8220;aaaaaaaaa!&#8221;</p>
<p>Aulia menjerit dengan keras. Jantungnya berdetak tak beraturan. Sesosok makhluk dengan sentuhan warna merah tiba-tiba muncul dihadapannya. Seorang badut bertopengkan <em>clown</em><em>. </em>Ia tersenyum sangat lebar. Ia menggaruk-garuk kepalanya dan membungkuk beberapa kali, mengisyaratkan bahwa ia minta maaf. Agak aneh rasanya bagi Aulia, melihat sosok dengan wajah tersenyum tapi dengan gerak tubuh minta maaf.</p>
<p>Aulia kemudian mengangguk, memberi isyarat bahwa ia sudah memaafkan si Badut. Dan sekarang wajahnya berubah dengan ekspresi ngeri. Ya, Aulia memang trauma dengan badut semenjak kecil. Disaat teman-teman seusianya senang dengan badut, tapi Aulia tidak, ia justru takut dan sering menangis karenanya.</p>
<p>Aulia hendak buru-buru pergi, tapi tiba-tiba badut itu justru mencegatnya. Ia makin ketakutan, ia menggenggam erat tasnya. Jika sampai badut itu macam-macam ia siap memukulnya. Dan tanpa diduga, badut itu mengeluarkan sesuatu dari belakang tubuhnya. Taraaa, setangkai mawar. Badut itu memberi Aulia setangkai mawar. Dengan sedikit ragu-ragu aulia menerima mawar tersebut. Badut tersebut lalu membungkuk layaknya seorang pengawal kepada Sang Puteri.</p>
<p>Aulia pun akhirnya berlalu, dan sang badut masih saja memandanginya sampai akhirnya Aulia menghilang di sebuah belokan.</p>
<p>&#8220;Om Badut Om Badut,  main lagi Om main lagi.&#8221;  beberapa anak kecil di Taman itu mulai mengelilinginya untuk mengajak bermain. Bahkan ada yang manarik-narik kostumnya.</p>
<p>Itu pertama kali bagi Aulia, sepulang ia bekerja ada seorang badut yang mencegat dan memberinya mawar. Ia merasa aneh dengan semua itu. Ia juga tidak tahu siapa dibalik topeng itu. Disisi lain dia juga penasaran, tapi takut. Ia takut badut. Bahkan membayangkannya saja dia sudah merinding.</p>
<p>Aulia berpikir bahwa apa yang dialaminya menjadi yang terakhir kali. Tapi itu salah, setiap hari minggu Aulia melewati taman dimana si Badut sering bermain. Dimana pada hari minggu taman tersebut sangat ramai oleh keluarga yang berekreasi di akhir pekan. Dan Aulia biasanya akan melewatinya saat lari pagi.</p>
<p>Awalnya Aulia memang takut dengan si badut. Tapi karena setiap minggu si badut selalu memberinya mawar ia pun mulai terbiasa. Bahkan sekarang Aulia bisa membalas senyum si Badut. Tentu saja maksudnya adalah &#8220;Terima Kasih banyak.&#8221;</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Aku nggak tahu gimana kalau nggak ada kamu disini.&#8221; Aulia menggenggam tangan Dimas. Sementara itu matanya semakin berkaca-kaca.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Aku yakin kita bisa lewatin ini. Kesempatan ini nggak datang dua kali sayang. Dan lagian aku nggak bisa menolak ini. Kantor udah nunjuk aku buat kerja disana.&#8221; Dimas mengusap-usap tangan Aulia. Matanya sama berkaca-kacanya dengan Aulia. Siap pecah kapanpun.</p>
<p style="text-align: left;">Aulia merapikan anak rambut di bagian telinga Dimas. &#8220;Kita nggak bisa lagi kayak gini kalau aku dan kamu terpisah ribuan kilometer. Aku nggak bisa.&#8221; Dan kaca-kaca di mata Auliapun pecah, meleleh majadi cairan hangat. Kesedihan yang hangat. Dimas pun mengusap air mata Aulia, lalu kemudian memeluknya. Membiarkan sejenak Aulia menumpahkan air mata di pelukannya.</p>
<p style="text-align: left;">Semenjak peristiwa malam tersebut Aulia menjadi murung. Wajahnya terlihat lesu, seolah semua semangat telah diambil darinya. Tak ada lagi senyumnya yang ceria. Sampai pada suatu minggu pagi seperti biasa ia melewati taman. Aulia yang tampak tak bersemangat memilih duduk di sebuah bangku taman. DUARRR! sebuah balon pecah persis disampingnya. Terlihat sebuah senyuman. Ya itu si Badut <em>Clown</em>. Tapi senyum di topengnya tak berpengaruh bagi Aulia yang sedang sedih.</p>
<p style="text-align: left;">Si Badut kemudian berlalu, lalu kembali dengan sebuah koper antik. Ia duduk disamping Aulia. si Badut membuka kopernya dan mengeluarkan sebuah spidol dan sehelai kertas kosong. Kemudian ia menggambar sebuah garis melengkung. Lalu menambahkan sepasang garis pendek di masing-masing ujungnya. Ia meletakkan kertas itu persis menutupi bagian mulut Aulia. Dan sekarang Aulia tak terlihat sedih lagi, ia tersenyum. Si Badut kemudian mengangkat tangannya memberi jempol.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Om baduuuut, ayoo main lagi&#8221; terdengar sorak anak-anak di taman itu memanggilnya. Si Badut meninggalkan Aulia yang masih bingung dengan kertas tersebut. Di lihatnya kertas tersebut dengan seksama. Di tempelkan lagi ke mulutnya. Tanpa sadar dia pun tersenyum dengan sendirinya. Dari tempat duduknya ia melihat si Badut asik melakukan aksi <em>Jugling </em>di depan anak-anak.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Aulia menghapus air matanya. Ia baru saja pulang dari bandara, melepas kepergian Dimas ke Kanada. Dimas akan berada di Kanada selama setahun di kedutaan Indonesia disana. Di depan Aulia ada sebuah kotak yang ditinggalkan Dimas. Perlahan ia membuka kotak itu, dan disana ada seperangkat kostum badut lengkap dan setangkai mawar.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penuliscemen.com/si-badut/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>35</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Toilet Jongkok vs Toilet Duduk</title>
		<link>http://penuliscemen.com/toilet-jongkok-vs-toilet-duduk/</link>
		<comments>http://penuliscemen.com/toilet-jongkok-vs-toilet-duduk/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 May 2012 16:07:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penuliscemen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita Si Cemen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penuliscemen.com/?p=929</guid>
		<description><![CDATA[TweetWARNING! Postingan ini (sedikit) jorok! &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; &#160; Jarang-jarang update blog, sekali update malah soal toilet. Oke teman-teman, silahkan kalian rileks dulu. Siapa tahu nanti bakal muntah baca postingan ini. Ini sebenernya bertolak pada pengalaman gue waktu ikutan bareng @StandupIndo_Pdg perform di Hotel The Hills. Hotelnya megah, mewah,]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="tweetbutton929" class="tw_button" style=""><a href="http://twitter.com/share?url=http%3A%2F%2Fpenuliscemen.com%2Ftoilet-jongkok-vs-toilet-duduk%2F&amp;via=penuliscemen&amp;text=Toilet%20Jongkok%20vs%20Toilet%20Duduk&amp;related=&amp;lang=en&amp;count=horizontal&amp;counturl=http%3A%2F%2Fpenuliscemen.com%2Ftoilet-jongkok-vs-toilet-duduk%2F" class="twitter-share-button"  style="width:55px;height:22px;background:transparent url('http://penuliscemen.com/wp-content/plugins/wp-tweet-button/tweetn.png') no-repeat  0 0;text-align:left;text-indent:-9999px;display:block;">Tweet</a></div><p><strong>WARNING! Postingan ini (sedikit) jorok!</strong></p>
<p><a href="http://penuliscemen.com/wp-content/uploads/2012/05/WC-jongkok.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-930" title="WC jongkok" src="http://penuliscemen.com/wp-content/uploads/2012/05/WC-jongkok.jpg" alt="" width="250" height="250" /></a></p>
<p><a href="http://penuliscemen.com/wp-content/uploads/2012/05/wc-duduk.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-931" title="wc duduk" src="http://penuliscemen.com/wp-content/uploads/2012/05/wc-duduk-235x300.jpg" alt="" width="235" height="300" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jarang-jarang update blog, sekali update malah soal toilet. Oke teman-teman, silahkan kalian rileks dulu. Siapa tahu nanti bakal muntah baca postingan ini.</p>
<p>Ini sebenernya bertolak pada pengalaman gue waktu ikutan bareng @StandupIndo_Pdg perform di Hotel The Hills. Hotelnya megah, mewah, tapi buat gue semegah apapun tempatnya gue nggak nyaman buang air besar dengan toilet duduk. Iya, gue lebih pro sama toilet jongkok #TimToiletJongkokUnite (Kenapa ada hestek disini? oke abaikan).</p>
<p>Buat gue toilet jongkok adalah salah satu kenikmatan dunia. Dan menurut yang gue baca toilet jongkok itu lebih baik untuk kesehatan. Terutama kesehatan pada kandungan kemih. Tapi entah kenapa di jaman Homosapien main twitter ini malah banyak toilet duduk.</p>
<p>Gue sangat-sangat nggak nyaman dengan toilet duduk. Pertama kali gue nyoba toilet duduk isi perut gue nggak keluar. Yang ada dalam benak gue adalah gue berasa duduk di kursi, terus kebayang isi perut keluar dan blepotan kemana-mana (yang mau muntah boleh, saya udah sekarung kok).</p>
<p>Dan jadilah kalau kemana-mana gue kalau kebelet buang air besar dan toiletny toilet duduk gue cuma nahan hasrat. Sama kayak pas standup di The Hills, terpaksa hasrat ingin membuang gue tahan. Untung nggak kelepasan di panggung. fiuuuh *lap keringat dingin*</p>
<p>Dan sebagai Tim Toilet Jongkok Unite saya meminta pemerintah menghapuskan segala bentuk toilet duduk. Karena Jongkok lebih greget. Sekian</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penuliscemen.com/toilet-jongkok-vs-toilet-duduk/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>14</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hadiah Kecil</title>
		<link>http://penuliscemen.com/hadiah-kecil/</link>
		<comments>http://penuliscemen.com/hadiah-kecil/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 02 May 2012 05:48:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penuliscemen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen dan Flash Fiction]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[love story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penuliscemen.com/?p=923</guid>
		<description><![CDATA[Tweet“Nitaaa!!!” Yuza masih belum percaya. Di depannya sekarang berdiri Nita Anatami. Ya, dialah Nita. Nita yang dulu jatuh dari sepeda dan tangannya terluka. Nita, cinta masa kecilnya dulu. &#8220;Kamu kok nggak ngasih kabar kalau mau balik ke Indonesia?&#8221; tanya Yuza dengan tatapan antara gembira dan setengah tak percaya. &#8220;Tadi mama mau nelfon kamu. Tapi kata]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="tweetbutton923" class="tw_button" style=""><a href="http://twitter.com/share?url=http%3A%2F%2Fpenuliscemen.com%2Fhadiah-kecil%2F&amp;via=penuliscemen&amp;text=Hadiah%20Kecil&amp;related=&amp;lang=en&amp;count=horizontal&amp;counturl=http%3A%2F%2Fpenuliscemen.com%2Fhadiah-kecil%2F" class="twitter-share-button"  style="width:55px;height:22px;background:transparent url('http://penuliscemen.com/wp-content/plugins/wp-tweet-button/tweetn.png') no-repeat  0 0;text-align:left;text-indent:-9999px;display:block;">Tweet</a></div><p><a href="http://penuliscemen.com/wp-content/uploads/2012/05/kunang.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-927" title="kunang-kunang" src="http://penuliscemen.com/wp-content/uploads/2012/05/kunang-236x300.jpg" alt="" width="236" height="300" /></a>“Nitaaa!!!”</p>
<p>Yuza masih belum percaya. Di depannya sekarang berdiri Nita Anatami. Ya, dialah Nita. Nita yang dulu jatuh dari sepeda dan tangannya terluka. Nita, cinta masa kecilnya dulu.</p>
<p>&#8220;Kamu kok nggak ngasih kabar kalau mau balik ke Indonesia?&#8221; tanya Yuza dengan tatapan antara gembira dan setengah tak percaya.</p>
<p>&#8220;Tadi mama mau nelfon kamu. Tapi kata Nita nggak usah, mau ngasih <em>sureprise </em>katanya&#8221;, kata mama Yuza kemudian sembari membawa dua cangkir teh. &#8220;Ayo kalian minum teh dulu sambil ngobrol, udah lama nggak ketemu kan?&#8221;</p>
<p>&#8220;Makasih Tante&#8221; kata Nita sembari tersenyum lebar. Mama Yuza cuma tersenyum sambil berlalu kembali ke dapur.</p>
<p>Yuza melihat jam tangannya. Tepat jam 6. Ia kemudian mengambil tangan Nita dengan terburu-buru. Dengan setengah berlari ia pergi keluar rumah. Sesampai di luar rumah Yuza pergi ke garasi yang ada disamping rumah dan keluar dengan sebuah sepeda ontel antik. &#8220;Nita ayo naik&#8221; Yuza memberi isyarat dengan gerakan kepalanya agar Nita naik ke boncengan sepedanya.</p>
<p>&#8220;Mau kemana? ini kan sudah sore?&#8221;</p>
<p>&#8220;Ayo ikut saja. Aku ada hadiah kecil buat kamu&#8221;</p>
<p>Akhirnya Nita menuruti Yuza. Dia naik sepeda dibonceng oleh Yuza.</p>
<p>&#8220;Pegang yang erat ya&#8221;</p>
<p>Yuza mengayuh sepedanya dengan kencang.  Sesekali Nita menjerit ketika sepeda itu melewati polisi tidur. Setelah melalui beberapa belokan, dan beberap kali tersentak oleh polisi tidur akhirnya mereka sampai di sebuah tempat. Sebuah bangunan tua bekas sebuah gedung. Gedung yang belum jadi tampaknya. Mungkin karena pemiliknya kekurangan dana, gedung ini hanya setengah jadi dan ditinggalkan begitu saja. Bahkan halamannnya sudah ditumbuhi ilalang setinggi dada orang dewasa.</p>
<p>Yuza menarik tangan Nita, dengan setengah berlari ia membawa Nita ke masuk ke gedung tua tersebut. Mereka berdua melewati puluhan anak tangga, sampai akhirnya mereka sampai di lantai paling atas. Dengan langkah gontai Yuza menuju ujung lantai tersebut lalu duduk disana. Nita yang masih kebingungan cuma berdiri, mengatur nafasnya setelah setengah berlari menyusuri tangga gedung bersama Yuza.</p>
<p>Yuza menengok ke belakang, &#8220;Loh kok bengong ayo sini, duduk&#8221;</p>
<p>Nita pun menghampiri yuza dan duduk disampingnya. Di depan mereka terpampang sebuah senja dengan indahnya.</p>
<p>&#8220;Aku menemukan tempat ini tanpa sengaja ketika SMA. Kadang-kadang aku mampir kesini untuk sekedar menikmati senja dari sini. Dan ini hadiah kecil untukmu.&#8221;</p>
<p>&#8220;Aku suka. Indah. Dari sini kita bisa melihat garis horizon yang berwarna jingga karena sinar matahari.&#8221; Nita kemudian tersenyum.</p>
<p>&#8220;Tunggu sebentar lagi. Akan hadiah lain&#8221;</p>
<p>&#8220;Masih ada? apa itu?&#8221; tanya Nita penasaran</p>
<p>Haripun mulai gelap. Langit kehilangan cahaya. Lalu tiba-tiba sebuah cahaya kerlap-kerlip terbang pelan diantara mereka berdua. Nita menatap dengan mata berbinar, sementara Yuza hanya tersenyum kecil. Hap! Nita menangkap kunang-kunang tadi. Kemudian ia membuka tangannya. Kini ditangannya seekor kunang-kunang, berkerlap-kerlip. Tak berapa lama kunang-kunang lain bermunculan. Satu, dua, tiga kemudian puluhan bahkan ratusan kunang-kunang kini mengelilingi mereka. Nita menatap semuanya dengan takjub, matanya yang bulat seketika berbinar.</p>
<p>&#8220;Disini kunang-kunang sudah sangat jarang. Tampaknya pembangunan perkotaan yang kian hari kian masuk ke daerah pinggiran membuat mereka tak punya tempat tinggal lagi&#8221;</p>
<p>Yuza kemudian berdiri. Dia mendekatkan tangannya kepada seekor kunang-kunang yang terbang. Kunang-kunang tersebut hinggap di ujung jarinya. Nita ikut berdiri. Mereka berhadapan. Kemudian kunang-kunang itu terbang ke atas kepala mereka. Mereka berdua kembali bertatapan.</p>
<p>&#8220;Za, Makasi ya atas hadiah kecilnya&#8221;</p>
<p>Yuza hanya tersenyum. Mereka saling menatap, berbicara lewat mata. Ada tatapan dalam antara keduanya. Ada banyak rindu yang sepertinya ada dalam mata mereka. Rindu yang bertahun-tahun mengendap. Hari ini semua luap. Puluhan bahkan ratusan kunang-kunang mengelilingi keduanya. Nita memejamkan matanya. Lalu keduanya larut dalam ungkapan rindu mereka berdua.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>NB: Kira-kira mau bikin sambungannya nggak ya?</em></strong></p>
<p><em><a href="http://bensdoing.wordpress.com">sumber gambar</a></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penuliscemen.com/hadiah-kecil/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Monyet (Kepulangan Nita)</title>
		<link>http://penuliscemen.com/cinta-monyet/</link>
		<comments>http://penuliscemen.com/cinta-monyet/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Apr 2012 14:33:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penuliscemen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen dan Flash Fiction]]></category>
		<category><![CDATA[Cerita Mini]]></category>
		<category><![CDATA[cerita pendek]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penuliscemen.com/?p=915</guid>
		<description><![CDATA[TweetDari lantai 2 sebuah coffee shop. Di luar hujan menghakimi bumi tanpa ampun, akhirnya Yusa memutuskan berhenti sebentar sembari menikmati secangkir kopi disini. Sebenarnya dia ada janji dengan seorang teman, tapi karena hujan Yuza terpaksa berhenti di coffe Shop ini. Yuza menggosok-gosokkan tangannya dan meniupnya. Berusaha untuk mendapatkan sedikit rasa hangat. Bajunya sedikit basah, untung]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="tweetbutton915" class="tw_button" style=""><a href="http://twitter.com/share?url=http%3A%2F%2Fpenuliscemen.com%2Fcinta-monyet%2F&amp;via=penuliscemen&amp;text=Cinta%20Monyet%20%28Kepulangan%20Nita%29&amp;related=&amp;lang=en&amp;count=horizontal&amp;counturl=http%3A%2F%2Fpenuliscemen.com%2Fcinta-monyet%2F" class="twitter-share-button"  style="width:55px;height:22px;background:transparent url('http://penuliscemen.com/wp-content/plugins/wp-tweet-button/tweetn.png') no-repeat  0 0;text-align:left;text-indent:-9999px;display:block;">Tweet</a></div><p><a href="http://penuliscemen.com/wp-content/uploads/2012/04/kid2bromance.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-919" title="Romance" src="http://penuliscemen.com/wp-content/uploads/2012/04/kid2bromance-300x199.jpg" alt="" width="300" height="199" /></a>Dari lantai 2 sebuah coffee shop. Di luar hujan menghakimi bumi tanpa ampun, akhirnya Yusa memutuskan berhenti sebentar sembari menikmati secangkir kopi disini. Sebenarnya dia ada janji dengan seorang teman, tapi karena hujan Yuza terpaksa berhenti di coffe Shop ini.</p>
<p>Yuza menggosok-gosokkan tangannya dan meniupnya. Berusaha untuk mendapatkan sedikit rasa hangat. Bajunya sedikit basah, untung dia segera berteduh, sedikit lagi saja dia pasti sudah basah kuyup.</p>
<p>Setelah menunggu beberapa saat akhirnya kopi pesanannya datang. Aroma kopi dan hujan di luar sana. Ternyata tenang itu sederhana. Tempias hujan menempel di jendela coffee shop ini. Membuat kacanya berembun. Jalanan di luar sibuk dengan orang yang lalu lalang, beberapa diantaranya tampak terburu-buru menghindari hujan.</p>
<p>Hujan terkadang membawa beberapa orang kepada ingatan masa lalu. Seperti Yuza sekarang. Dia sedang mengingat masa-masa kanak-kanak. Dia teringat kepada teman masa kecilnya bermana Nita. Bisa dibilang Nita adalah cinta monyetnya.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;aduh&#8221; Nita terjatuh dari sepedanya.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Nitaaa&#8221; Yuza dari kejauhan langsung mengejarnya. &#8220;Kamu nggak apa-apa kan?&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Sakiiiit&#8221; Nita meringis sambil memperlihatkan sikunya yang berdarah.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Ayo, kita ke rumahku yuk ngobatin luka kamu&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">Nita hanya mengangguk. Ia masih memegang tangannya yang luka. Yuza kemudian mengambil sepeda Nita. &#8220;Yuk naik&#8221;. Yuza pun membonceng Nita ke rumahnya. Sesampai di rumah Yuza segera mengambil kotak P3K. Dengan cepat dia membersihkan dan memperban luka Nita.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Nah sekarang luka kamu udah diperban. Nanti juga sembuh&#8221; kata Yuza sembari merapikan kotak P3K&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Makasih Za? Kamu belajar dimana?&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Apa? ngerawat luka? Mama yang ngajarin&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Aduuuh Nita kenapa? kok tangannya di perban?&#8221; Tiba-tiba mama Yuza keluar dari dalam rumah.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Nggak apa-apa kok tante, tadi Nita jatuh pas main sepeda sama Yuza. Terus Yuza bantuin ngobatin lukanya tante&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Oh begitu. Kirain tante kenapa-napa. Oh iya kalian mau es krim nggak?&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;mau mau mau..!&#8221; kata Yuza dan Nita serempak.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Sebentar ya&#8221; kemudian Mama Yuza berlalu dan beberapa saat kemudian kembali membawa dua gelas es krim.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Ini untuk kalian&#8221; Mama Yuza menyerahkan dua gelas es krim kepada Yuza dan Nita.</p>
<p style="text-align: left;">Nita dan Yuza pun menikmati es krim mereka.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Tiba-tiba Yuza tersadar dari lamunannya. Getaran handphone dari dalam kantong celananya mengangetkannya. Sebuah pesan singkat dari temannya yang mengabarkan untuk menunda pertemuan mereka kali ini. Yuza menghela nafas. Ia pun kemudian bergerak dari tempat duduknya, menuju kasir dan membayar kopinya. Di luar gerimis masih turun, tapi tak masalah. Dia melihat jam tangan. Sudah jam setengh lima sore. Yuza pun bergegas pulang.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Assamu&#8217;alaikum&#8221; seru Yuza sesampainya di depan pintu rumah.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Wa&#8217;alaikum Salam&#8221; terdengar suara mamanya menyahut dari dapur.</p>
<p style="text-align: left;">Yuza kemudian melepas sepatu dan meletakkannya di rak sepatu. Dia kemudian menghampiri kulkas dan mengambil sebotol minuman dingin. Dia menenggak minuman tersebut sembari menghempaskan tubuhnya yang lelah di sebuah sofa ruang keluarga. Tapi kemudian, tiba-tiba saja pandangannya menjadi gelap.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Mama!&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Ada ppa? mama lagi masak&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Hah? terus ini siapa yang nutup mataku?&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">Yuza kemudian menurunkan tangan yang menutup matanya. Kemudian ia berdiri dan berbalik badan, dan&#8230;.</p>
<p style="text-align: left;">&#8220;Nitaaa!!!&#8221;</p>
<p style="text-align: left;">&#8230;..</p>
<p style="text-align: left;"><strong><em>NB: Sabar ya, masih ada lanjutannya kok <img src='http://penuliscemen.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </em></strong></p>
<p style="text-align: left;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penuliscemen.com/cinta-monyet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Senja Yang Sama, Rasa Yang Berbeda</title>
		<link>http://penuliscemen.com/senja-yang-sama-rasa-yang-berbeda/</link>
		<comments>http://penuliscemen.com/senja-yang-sama-rasa-yang-berbeda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Apr 2012 20:50:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penuliscemen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen dan Flash Fiction]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penuliscemen.com/?p=891</guid>
		<description><![CDATA[TweetShinta terus saja memperhatikan toples yang aku beli kemaren. Dia bertopang dagu, wajahnya nampak sedih. Sesekali dia mengambil toples itu dan diangkat dan dilihatnya dari berbagai sisi. &#8220;Ini apa?&#8221; Celetuk Shinta sambil mengangkat toples yang kuberikan. &#8220;Toples&#8221; Aku menjawab sekenanya. &#8220;Iya, nenek salto juga tahu kalau ini toples. Maksud aku ini untuk apa? Aku nggak]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="tweetbutton891" class="tw_button" style=""><a href="http://twitter.com/share?url=http%3A%2F%2Fpenuliscemen.com%2Fsenja-yang-sama-rasa-yang-berbeda%2F&amp;via=penuliscemen&amp;text=Senja%20Yang%20Sama%2C%20Rasa%20Yang%20Berbeda&amp;related=&amp;lang=en&amp;count=horizontal&amp;counturl=http%3A%2F%2Fpenuliscemen.com%2Fsenja-yang-sama-rasa-yang-berbeda%2F" class="twitter-share-button"  style="width:55px;height:22px;background:transparent url('http://penuliscemen.com/wp-content/plugins/wp-tweet-button/tweetn.png') no-repeat  0 0;text-align:left;text-indent:-9999px;display:block;">Tweet</a></div><p><a href="http://penuliscemen.com/wp-content/uploads/2012/04/sunset.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-893" title="sunset" src="http://penuliscemen.com/wp-content/uploads/2012/04/sunset-300x225.jpg" alt="Sumber Gambar: Google" width="300" height="225" /></a>Shinta terus saja memperhatikan toples yang aku beli kemaren. Dia bertopang dagu, wajahnya nampak sedih. Sesekali dia mengambil toples itu dan diangkat dan dilihatnya dari berbagai sisi.</p>
<p>&#8220;Ini apa?&#8221; Celetuk Shinta sambil mengangkat toples yang kuberikan.</p>
<p>&#8220;Toples&#8221; Aku menjawab sekenanya.</p>
<p>&#8220;Iya, nenek salto juga tahu kalau ini toples. Maksud aku ini untuk apa? Aku nggak ngerti kenapa kamu kasih ini ke aku?&#8221; Nadanya mulai meninggi, Shinta mulai kesal dengan jawabanku. Aku cuma diam. Karena aku sendiri juga tidak mengerti kenapa aku malah membeli toples berisi potongan kertas warna-warni itu. Yang aku pikirkan aku hanya ingin memberinya sesuatu. Sesuatu yang setidaknya bisa mengobati rindunya saat di Jakarta nanti.</p>
<p>&#8220;kamu kapan jadinya berangkat?&#8221; Aku berusaha mengalihkan pembiacaraan.</p>
<p>&#8220;Besok lusa&#8221; Shinta menjawab tanpa melihatku. Ia terlihat berusaha membuka toples itu.</p>
<p>&#8220;Lusa? kenapa dipercepat?&#8221; Aku protes. Hubungan kami baru beberapa bulan. Selanjutnya kami malah akan LDR dan sekarang kepergiannya malah dipercepat.</p>
<p>&#8220;Mama yang nyuruh. Aku nggak bisa ngebantah&#8221; jawabnya tanpa melihatku. Dia masih berusaha membuka toples itu yang ternyata masih keras karena baru.</p>
<p>&#8220;Sini aku bukain&#8221;</p>
<p>Aku pun membukan toples itu untuk Shinta. Kuserahkan padanya. Lalu Shinta mengeluarkan beberapa potongan kertas berwarna &#8211; warni di dalamnya. Kemudian dia merangkai namaku dan namanya. &#8216;<em>Rama love (tanda hati)  Shinta&#8217;</em>. Aku hanya tersenyum memperhatikan apa yang baru saja dilakukannya.</p>
<p>&#8220;Kamu kebayang nggak kalau di Jakarta nanti aku bakal ngerangkai ini kayak apa?&#8221;</p>
<p>Aku menggeleng.</p>
<p>&#8220;Aku akan merangkainya jadi Rama. Disebalahnya ada kata Padang. Terus tanda panah bolak balik. Jakarta. Lalu nama aku, Shinta&#8221; terangnya dengan wajah antusias.</p>
<p>&#8220;Sulit memang ketika ada jarak memisahkan kita. Tapi aku yakin kita bisa ngelewatin ini semua&#8221; Aku menggenggam tangannya.</p>
<p>&#8220;Entahlah, aku tidak yakin kita bisa. Tapi kita akan selalu berusaha sekuat tenaga kan?&#8221;</p>
<p>Aku mengangguk yakin. Shinta pun tersenyum. Setelah membayar makanan kami pun keluar dari Cafe tempat kami berbincang. Sudah senja, dan kami masih berpakaian sekolah. Seragam SMA kami penuh corat coret. Tanda tangan disana sini. Ya, kami baru saja merayakan kelulusan.</p>
<p>Kami pulang sambil menikmati senja. Tak ada yang berbicara diantara kami. Aku maupun Shinta sama-sama diam. Bukan karena senja yang indah, hanya saja kami terlalu cemas. Cemas dengan jarak yang akan memisahkan kami. Aku mempererat genggamanku, karena setelah besok lusa aku takkan bisa lagi menggenggam tangannya. Kita akan dipisahkan jarak Padang &#8211; Jakarta. Shinta harus melanjutkan kuliahnya disana, sementara aku tetap disini.</p>
<p>&#8220;Sayang&#8230;&#8221; tiba-tiba Shinta membuka pembicaraan. &#8220;Boleh aku minta sesuatu?&#8221;</p>
<p>&#8220;Apa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Kamu jagain senja ini buat aku ya? Sampai aku pulang&#8221;</p>
<p>Aku menggeleng.</p>
<p>&#8220;Kenapa?&#8221;</p>
<p>&#8220;Tidak. Tapi aku akan membawanya ke Jakarta untukmu. Aku janji&#8221; Kataku pada Shinta.</p>
<p>Dia tersenyum lebar. Senyum yang akan selalu aku ingat sampai kita bertemu lagi.</p>
<p style="text-align: center;">***</p>
<p style="text-align: left;">Aku sekarang di Jakarta, seperti janjiku padanya untuk membawakannya senja yang dulu. Sekarang aku menepatinya. Tadi seharian kami baru saja menghabiskan waktu berdua bermain di wahana-wahana Ancol. Bermain. Tertawa lepas. Kami benar-benar menikmatinya. Kerinduan selama 4 tahun rasanya terobati. Tapi&#8230;</p>
<p style="text-align: left;">Tapi sekarang aku sadar. Di hadapan senja yang sama, aku mengetahui bahwa jarak bisa merubah perasaan. Kami sama-sama menyadari bahwa perasaan di dalam hati tidak seperti dulu. Kami kehilangan cinta. Dan sepertinya dalam tahun-tahun kami terpisah cinta tercecer entah dimana. Dan ternyata kali ini Rama dan Shinta harus berpisah.</p>
<p style="text-align: left;"><em>PS: Cerita ini terinpirasi dari ceritanya om <a title="Popokman" href="http://wandypopok.wordpress.com" target="_blank">@popokman</a> ditwitter. Terima Kasih</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penuliscemen.com/senja-yang-sama-rasa-yang-berbeda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>48</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TOPENG</title>
		<link>http://penuliscemen.com/topeng/</link>
		<comments>http://penuliscemen.com/topeng/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Apr 2012 18:36:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penuliscemen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerpen dan Flash Fiction]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[flash fiction]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penuliscemen.com/?p=879</guid>
		<description><![CDATA[Tweet&#8220;Selamat pagi sayang, ayo dong bangun!&#8221; suara manja Dina dari seberang telepon sana berhasil membangunkanku yang sedari tadi tak mau beranjak dari tempat tidur. Ini hari minggu, hari dimana keinginan bermalas-malasan lebih tinggi daripada keinginan melakukan kegiatan di luar rumah. Tapi hari ini aku sudah berjanji dengan Dina untuk menemaninya jalan-jalan pagi di taman. Dengan]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="tweetbutton879" class="tw_button" style=""><a href="http://twitter.com/share?url=http%3A%2F%2Fpenuliscemen.com%2Ftopeng%2F&amp;via=penuliscemen&amp;text=TOPENG&amp;related=&amp;lang=en&amp;count=horizontal&amp;counturl=http%3A%2F%2Fpenuliscemen.com%2Ftopeng%2F" class="twitter-share-button"  style="width:55px;height:22px;background:transparent url('http://penuliscemen.com/wp-content/plugins/wp-tweet-button/tweetn.png') no-repeat  0 0;text-align:left;text-indent:-9999px;display:block;">Tweet</a></div><p><a href="http://penuliscemen.com/wp-content/uploads/2012/04/topeng.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-881" title="Topeng" src="http://penuliscemen.com/wp-content/uploads/2012/04/topeng-300x225.jpg" alt="Sumber Gambar: http://yunanithebest.tumblr.com/" width="300" height="225" /></a>&#8220;Selamat pagi sayang, ayo dong bangun!&#8221; suara manja Dina dari seberang telepon sana berhasil membangunkanku yang sedari tadi tak mau beranjak dari tempat tidur. Ini hari minggu, hari dimana keinginan bermalas-malasan lebih tinggi daripada keinginan melakukan kegiatan di luar rumah. Tapi hari ini aku sudah berjanji dengan Dina untuk menemaninya jalan-jalan pagi di taman.</p>
<p>Dengan mata masih setengah mengantuk aku sampai di taman. Disini ramai. Banyak orang yang menghabiskan minggu paginya disini. Ada yang sekedar berjalan-jalan dengan kekasihnya. Ada juga keluarga yang piknik, menghabiskan waktu liburan. Selain bersama keluarga, beberapa orang juga menghabiskan minggu pagi dengan hewan peliharaannya.</p>
<p>Aku memilih duduk di sebuah bangku taman yang menghadap ke danau buatan. Dina belum juga datang. Dan sekarang aku menikmati pagi di taman ini. Dengan suara riang anak-anak kecil yang main kejar-kejaran. Di bagian lain danau terlihat seorang anak kecil tengah asik memberi makan merpati-merpati.</p>
<p>Lalu tiba-tiba saja pandanganku gelap. Ada seseorang dari belakang yang menutup mataku dengan tangannya. Tapi aku sangat mengenal aroma dia. Dina. &#8220;Sayang, udah ah jangan becanda?&#8221;Akupun menggenggam tangannya dan menurunkannya. Kemudian dia melingkarkan kedua tangannya di tubuhku. &#8220;Kok kamu tahu kalau ini aku?&#8221; tanyanya manja. &#8220;Walau kamu menutup mataku, tapi aku masih kenal aroma tubuhmu. Aroma kamu yang belum mandi itu khas&#8221; kataku kemudian. &#8220;Enak aja, udah mandi tauk&#8221; jawabnya dengan ekspresi manyun.</p>
<p>Tapi kita semua tahu, waktu cepat sekali berubah. Kadang tanpa diduga. Peristiwa tadi adalah akhir pekan lalu. Sekarang semuanya sudah berubah dan keadaannya jauh berbeda. Semua berubah setelah kemarin lusa disini. Di tempat aku menyeruput kopi sekarang.</p>
<p>Tepat di meja seberangku, aku melihat senyum yang sangat ku kenal. Dengan ekspresi yang sangat bahagia. Tapi itu bukan dengan ku. Dengan pria lain. Dia sempat melihatku, roman wajahnya berubah beberapa saat. Lalu kembali tertawa dengan pria itu.</p>
<p>Dan hari itu aku menghabiskan sisa kopiku tanpa rasa. Bahkan hingga sekarang semuanya seperti tanpa rasa. Semua bagiku terlihat seperti gambar hitam putih. Senyum-senyum ramah pelayan disini bagiku seolah tanpa ekspresi. Keramaian diluar sana terasa sepi,  bahkan jauh lebih sepi.</p>
<p>Kemarin dia mengirim sebuah pesan singkat berisi permintaan maaf. Maaf? Seharusnya sebelum melakukan itu dia sudah tahu apa rasanya. Dan kali ini aku masih benar,<em> &#8220;Jika cinta itu harapan, maka aku sedang menghunus diriku pelan-pelan&#8221;</em>. Akhirnya aku tahu bahwa selama ini semuanya hanya topeng.</p>
<p>Aku menyeruput sisa kopiku, tak lagi hangat. Dan handphone ku berdering, tertulis di layarnya &#8216;<em>My Honey Dina&#8217;.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penuliscemen.com/topeng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tentang Apa Saja</title>
		<link>http://penuliscemen.com/tentang-apa-saja/</link>
		<comments>http://penuliscemen.com/tentang-apa-saja/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Apr 2012 03:49:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penuliscemen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tentang Apa Saja]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penuliscemen.com/?p=862</guid>
		<description><![CDATA[TweetSelamat untuk kamu, sepagi ini kamu menjadi urusan nomor satu di pikiranku. Sebenarnya pagi ini aku ingin menulis. Sudah lama aku tak menulis blog ini. Tapi entah bagaimana semuanya menjadi buyar. Ide-ide tadi malam seperti tertinggal dalam mimpi dan aku lupa membawanya ketika bangun tadi. Jadi aku putuskan menulis tentang apa saja. Apa saja tentang]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="tweetbutton862" class="tw_button" style=""><a href="http://twitter.com/share?url=http%3A%2F%2Fpenuliscemen.com%2Ftentang-apa-saja%2F&amp;via=penuliscemen&amp;text=Tentang%20Apa%20Saja&amp;related=&amp;lang=en&amp;count=horizontal&amp;counturl=http%3A%2F%2Fpenuliscemen.com%2Ftentang-apa-saja%2F" class="twitter-share-button"  style="width:55px;height:22px;background:transparent url('http://penuliscemen.com/wp-content/plugins/wp-tweet-button/tweetn.png') no-repeat  0 0;text-align:left;text-indent:-9999px;display:block;">Tweet</a></div><p>Selamat untuk kamu, sepagi ini kamu menjadi urusan nomor satu di pikiranku. Sebenarnya pagi ini aku ingin menulis. Sudah lama aku tak menulis blog ini. Tapi entah bagaimana semuanya menjadi buyar. Ide-ide tadi malam seperti tertinggal dalam mimpi dan aku lupa membawanya ketika bangun tadi. Jadi aku putuskan menulis tentang apa saja. Apa saja tentang kamu.</p>
<p>Kuseruput lagi secangkir kopiku yang beranjak dingin. Dan persis ketika mengetik ini, aku sedang membayangkan senyummu muncul dari asap cangkir kopiku. Hey kamu, sudah lama juga ya kita tidak bertemu. Kapan kita bertemu lagi? Aku ingin menghabiskan sebuah sore bersamamu, menikmati secangkir teh hangat, menghisap senja dan kita berbincang tentang apa saja.</p>
<p>Sudah lama aku tak melihatmu bercerita. Kau tahu, diam-diam otakku memotret gaya bicaramu saat bercerita. Ekspresomu. Antusiasmu bercerita tentang pelajaran di kampusmu. Sesekali muncul ekspresi jumawa saat bercerita tentang kejadian lucu bersama teman-temanmu. Aku suka semua ekspresimu.</p>
<p>Belakangan aku tertarik untuk bepergian, dan aku menemukan beberapa tiket murah ke Ho Chi Minh, Vietnam. Katanya disana adalah kota kedamaian. Aku berharap bisa membeli dua tiket, dan disana kita bisa menikmati kedamaian Ho Chi Minh. Disana kita bisa bersama-sama berdamai dengan masa lalu.</p>
<p>hmm.. apalagi ya? Oya, aku juga rindu kau menanyakan pertanyaan bodoh semacam &#8220;kamu udah tidur belum?&#8221; ketika aku mengangkat telpon. Baiklah, aku tidak punya kata-kata lagi untukmu. Jika ada yang ingin kau tanyakan mungkin jawabannya lebih banyak dalam hati. Maaf pagi ini aku terlalu rindu untu menulis sesuatu tentangmu. Selamat Pagi, Kamu.</p>
<p>&nbsp;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penuliscemen.com/tentang-apa-saja/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jatuh Cinta?</title>
		<link>http://penuliscemen.com/jatuh-cinta/</link>
		<comments>http://penuliscemen.com/jatuh-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Mar 2012 11:44:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penuliscemen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[Tentang Apa Saja]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[jatuh cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penuliscemen.com/?p=860</guid>
		<description><![CDATA[TweetJatuh cinta? Aku tidak yakin. Tapi ketika sedang menuliskan ini aku sedang mengingat-ingat senyummu tadi pagi. Aku tak tahu persis seperti apa rasanya jatuh cinta. Beberapa teman bilang, jatuh cinta itu indah. Tapi beberapa juga mengatakan luka yang diberikan cinta itu menyakitkan. Dan memang, aku lihat mereka memang belum sembuh. Jatuh cinta? Ah, jangan bercanda,]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="tweetbutton860" class="tw_button" style=""><a href="http://twitter.com/share?url=http%3A%2F%2Fpenuliscemen.com%2Fjatuh-cinta%2F&amp;via=penuliscemen&amp;text=Jatuh%20Cinta%3F&amp;related=&amp;lang=en&amp;count=horizontal&amp;counturl=http%3A%2F%2Fpenuliscemen.com%2Fjatuh-cinta%2F" class="twitter-share-button"  style="width:55px;height:22px;background:transparent url('http://penuliscemen.com/wp-content/plugins/wp-tweet-button/tweetn.png') no-repeat  0 0;text-align:left;text-indent:-9999px;display:block;">Tweet</a></div><p>Jatuh cinta? Aku tidak yakin. Tapi ketika sedang menuliskan ini aku sedang mengingat-ingat senyummu tadi pagi. Aku tak tahu persis seperti apa rasanya jatuh cinta. Beberapa teman bilang, jatuh cinta itu indah. Tapi beberapa juga mengatakan luka yang diberikan cinta itu menyakitkan. Dan memang, aku lihat mereka memang belum sembuh.</p>
<p>Jatuh cinta? Ah, jangan bercanda, aku hanya terlalu suka memperhatikan hal-hal kecil tentang kamu. Es Krim yang belepotan di ujung bibirmu misalnya. Dan ketika aku mengatakan itu, kau malah tertawa.</p>
<p>Jatuh cinta? Aku belum yakin sih. Tapi setiap kamu tersenyum aku berharap sedang memegang kamera dan mengabadikan senyummu. Tapi aku rasa otakku telah menjelma menjadi kamera, disaat tertentu otakku mencetak senyummu itu. Entah itu dilangit-langit kamar atau di udara yang kosong.</p>
<p>Jatuh cinta? hmm… bagaimana kalau kamu bantu aku menyelamatkan cinta yang jatuh itu dengan sebuah pernikahan. Setidaknya cinta itu jatuh di tempat yang benar. bagaiamana?</p>
<p><strong>Padang, 20 Maret 2012</strong></p>
<p>-<em><strong>@penuliscemen</strong></em>-</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penuliscemen.com/jatuh-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kamu</title>
		<link>http://penuliscemen.com/kamu/</link>
		<comments>http://penuliscemen.com/kamu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 21 Mar 2012 11:43:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>penuliscemen</dc:creator>
				<category><![CDATA[Puisi]]></category>
		<category><![CDATA[kumpulan puisi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://penuliscemen.com/?p=858</guid>
		<description><![CDATA[TweetKamu, iya kamu. Kamu yang entah membaca tulisan ini atau tidak. Kamu yang aku cintai diam-diam. Kamu yang tak pernah tahu kalau aku rindu. Kamu, mudah-mudahan kamu juga rindu. Kamu, apalagi yang perlu kutulis tentang kamu setelah semuanya. Kamu, senyum kamu yang dulu masih ada? masihkah semanis dulu? Kamu, dimana? aku berharap kamu mengingatku. Kamu,]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div id="tweetbutton858" class="tw_button" style=""><a href="http://twitter.com/share?url=http%3A%2F%2Fpenuliscemen.com%2Fkamu%2F&amp;via=penuliscemen&amp;text=Kamu&amp;related=&amp;lang=en&amp;count=horizontal&amp;counturl=http%3A%2F%2Fpenuliscemen.com%2Fkamu%2F" class="twitter-share-button"  style="width:55px;height:22px;background:transparent url('http://penuliscemen.com/wp-content/plugins/wp-tweet-button/tweetn.png') no-repeat  0 0;text-align:left;text-indent:-9999px;display:block;">Tweet</a></div><p>Kamu,</p>
<p>iya kamu.</p>
<p>Kamu yang entah membaca tulisan ini atau tidak.</p>
<p>Kamu yang aku cintai diam-diam.</p>
<p>Kamu yang tak pernah tahu kalau aku rindu.</p>
<p>Kamu, mudah-mudahan kamu juga rindu.</p>
<p>Kamu, apalagi yang perlu kutulis tentang kamu setelah semuanya.</p>
<p>Kamu, senyum kamu yang dulu masih ada? masihkah semanis dulu?</p>
<p>Kamu, dimana? aku berharap kamu mengingatku.</p>
<p>Kamu, semoga kamu membaca ini dan tahu bahwa aku rindu.</p>
<p>Kamu, ketika menulis ini aku benar-benar merindukanmu.</p>
<p>- Padang, 17 Maret 2012 -</p>
<p><strong>@penuliscemen</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://penuliscemen.com/kamu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

